Parenting

Ciri Orang Tua Narsis Dan Dampaknya Buat Anak

Sejak aku punya anak, aku berusaha jadi orang tua yang “benar” buat anak-anakku. Sedikit banyak pola didik aku berkaca dari perlakuan orang tuaku terutama ibuku di masa kecil sampai aku mau menikah. Pola didik aku itu kebanyakan kontra dari perlakuan orang tuaku, karena aku merasa dampaknya ngga bagus buat kesehatan mentalku yang kalau diteruskan ke anak-anakku kemungkinan besar berdampak sama.

Setelah aku kepo sana sini tentang perlakuan orang tuaku, aku baru sadar kalau ada beberapa ciri orang tua narsis pada mereka. Sebelum aku bahas lebih lanjut, aku jelasin dulu tentang ke-NARSIS-an ini menurut Wikipedia

Narcissistic personality disorder (NPD) is a personality disorder with a long-term pattern of abnormal behavior characterized by exaggerated feelings of self-importance, excessive need for admiration, and a lack of empathy.Those affected often spend much time thinking about achieving power or success, or on their appearance. They often take advantage of the people around them. The behavior typically begins by early adulthood, and occurs across a variety of social situations.

Terus gimana ciri-ciri orang tua narsis ???
Ini aku bikin dengan urutan teratas yang paling terlihat dalam perlakuan ibu-bapakku ya…

  • Merasa selalu benar. Semua yang ada dalam pikiran dan perkataan mereka adalah benar, tidak pernah salah. Bahkan ketika mereka membuat kesalahan dan memperlakukan si anak secara tidak adil pun mereka tidak pernah minta maaf.
  • Tidak pernah menghormati batasan pribadi anaknya. Mereka bisa dengan enteng nya obrak abrik isi tas anak nya  atau ikut campur dalam obrolan anaknya dan teman-teman si anak bahkan kadang membeberkan kejelekan si anak di depan teman-teman nya. Ini biasanya terjadi pada saat anak beranjak remaja.
  • Control Freak dan posesif. Setelah si anak dewasa dan sudah berpenghasilan pun mereka bisa mengkontrol tentang kegiatan si anak dan mengkontrol penghasilan si anak.
  • Anti Kritik. Kalau di kritik tentang perilaku atau perlakuan mereka yang salah, maka yang akan terjadi adalah ledakan emosi, sumpah serapah, dan kekerasan fisik kepada si anak.
  • Sering menghina. Pada saat nilai pelajaran sekolah tidak bagus, maka kata-kata G*blok, T*lol, D*ngu dan sebagainya adalah hal yang biasa, dan berlanjut ketika tahu bahwa penghasilan anak tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
  • Manipulatif dan playing victim. Mereka bisa terlihat “menderita” dan membebankan “penderitaan” nya tersebut ke si anak. Misalkan mereka sakit, seolah-olah sakit tersebut karena si anak sudah tidak perduli lagi pada mereka. Ini terjadi di masa tua mereka.
  • Merongrong anak. Setiap prestasi dan kesuksesan anak menurut mereka adalah berkat andilnya, sehingga si anak harus terus menerus menyenangkan hatinya dan memenuhi keinginan nya.
  • Punya anak emas dan anak terbuang. Membanding-bandingkan anak adalah hal yang lumrah. Apabila ada anak yang menuruti semua perintah mereka maka adalah anak kesayangan dan semua di bolehkan. Apabila ada anak yang melawan kehendak mereka, maka sudah pasti itu adalah anak yang tidak berguna untuk mereka dan tidak akan diperdulikan.

Dampak negatif perlakuan orang tuaku yang narsis ini lumayan bikin kesehatan mental aku terganggu jadi gesrek gitu kelakuanku hahaha….

Yang paling terasa adalah aku selalu merasa bersalah dan merasa harus bertanggung jawab kalau ada suatu hal yang mengganggu di keluargaku bahkan kadang sampai sekarang. Aku juga jadi temperamental di lingkungan luar dan jarang punya empati terhadap teman-teman, aku jadi susah punya sahabat.

Tapi ternyata ada juga dampak positif dari orang tua narsis ini looooh…. aku jadi berpikir perlakuan ini harus STOP di aku aja. Aku berusaha jadi orang tua yang mendengarkan saran anak, berusaha mengerti kemauan anak-anakku. Kata MAAF apabila aku berbuat salah dan TERIMA KASIH apabila anak-anakku do something good adalah wajib buatku. Aku pun berusaha menghormati batasan pribadi anak-anakku terutama yang sudah beranjak remaja.

Diluar semua karakter narsis itu, mereka tetap orang tuaku. Semua perlakuan buruk yang aku terima dari mereka merupakan pelajaran berharga buat aku supaya aku bisa jadi lebih baik dalam mendidik dan membesarkan anak-anak aku.

happy wife, happy mommy, happy blogger :)

43 Comments

  • Ucig

    Mbaaa, aku pun belajar dari cara ortu didik aku duluu. Kurang lebih ada sih di poin ituu, mereka. Nggak pengin ngulangin lagiii..
    Tadi kupikir ada foto narsis gitu mba hihii.. mamah aku masih suka foto selfie soalnya 😃 cuma bliau nggak selalu merasa benar ^^

  • Reyne Raea (Rey)

    Kayaknya banyak banget ya yang ngalamin hal kayak gini, sayapun masih selalu belajar untuk menghormati keinginan anak, hak anak dan sebagainya.
    Meskipun pada prakteknya tidak semudah yang dibayangkan.
    Semoga kita semua jadi ibu yang lebih baik lagi 🙂

    • Irena Faisal

      Amiin YRA, semoga kita bisa jadi ibu yang makin hari makin lebih baik yaa…
      Ternyata memang banyak yang memiliki orang tua NPD, beberapa temanku juga punya pengalaman yang sama.

  • Okti Li

    Ada pepatah buah tidak akan jauh kalau jatuh dari pohonnya. Begitu juga dengan sikap dan temperamental orang tua terhadap anak. Tapi syukurlah Mom sudah “menyadari” itu semua dan sudah berpikir untuk stop di Mom saja semua itu, jangan sampai anak kita kena dampaknya (lagi)

    Tetap semangat ya Mom. Benar, orang tua kita adalah hal yang paling berharga dalam hidup kita. Seburuk apapun dulunya kita tetap harus menghormati mereka.

    • Irena Faisal

      Yes Mbak, pada saat ku “menderita” akibat perlakuan orang tuaku, aku berpikir ngga boleh meneruskan ke anak-anakku. Kasihan.
      Apapun itu, mereka tetap orang tuaku yang ku hormati 🙂

  • Dian Restu Agustina

    Duh mbak..ini mertuaku banget deh, kalau oertiku sih Alhamdulillah oke
    Jadi mereka tuh dari kecil anaknya bedain anak -versi suamiku nih. Hasil akhirnya sekarang anaknya ga da yang rukun..ada aja masalah, karena dari kecil begitu dan enggak ditengahi. Malah ada yang selalu dibela..
    Jadinya ini pemebelajaran bagi aku dan suami, mesti adil ke anak-anak kami
    Thanks sudah sharing ini mbak

    • Irena Faisal

      Yes Mbak, jadinya aku n adik ku suka ribut-ribut ngga jelas. Kebanyakan karena iri hati, karena perlakuan yang ngga adil dari orang tua ku :((

  • CatatanRia

    Serem sekali ya orang tua narsis ini, haduh jangan sampai saya menjadi salah satunya. Untung sih suami dan mertua saya memiliki cara yang sama dalam mendidik anak-anak.

  • Keke Naima

    Tadinya saya pikir orang tua narsis adalah yang suka motretin anak-anaknya untuk diupload di media sosial. Ternyata, setelah membaca artikel ini, saya salah menduga 🙂

    • Irena Faisal

      hahaha aku juga berpikir begitulah mbak, sampai ada salah satu teman yang curhat tentang Ibu nya yang NPD. Lah koq sama kaya ibuku, begitulah pikirku

  • Shine

    Ah aku merasakannya mbaa. Dan ga mau terulang di anak2. Cukup stop di aku. Emang susah sih tapi harus usaha to the max karena ga ada yg ga mungkin. Karena pendidikan yg paling mahal itu pendidikan jiwa bagi anak2

    • Irena Faisal

      setuju, pendidikan jiwa itu penning dan kita sebagai ibu adalah guru pertama anak-anak kita. Jangan sampai diteruskan ke anak-anak, mbak… kasihan nantinya

  • Cilya

    Semangat mba, memang kadang orang tua mengajarkan ke kita atas apa yang mereka terima di masa kecil hingga dewasa nya dan mungkin juga karena keterbatasan informasi atau sharing mengenai duani parenting yang setiap jaman selalu berbeda cara penyampaian nya kepada anak-anak nya. Jadi aku setuju, mata rantai pola asuh yang kurang baik itu perlu di ‘Cut’ sampai di kita saja dan kita berlajar dari pengalaman yang ada dan jangan lupa selalu meng-update ilmu kita dalam hal dunia parenting.

    • Irena Faisal

      setujuuuu, mungkin dulunya nenek-kakekku juga NPD jadi menurun ke Ibu-bapakku. Dan Ibu-bapakku terbatas pendidikan nya mengenai parenting.

  • Ludyah Annisah

    I feel you, mba. Ini persis ortu ku bangeeet. Dan, jujurly aku gak betah kalau lama-lama di rumah. Bahkan, kalau lebaranpun aku sama Adekku yg udah nikah malah lebih milih mudik lebaran di tempat mertua masing-masing. Maybe, jatuhnya ke aku jadi ada semacam inner child gitu. Tapi aku gak pengen, anakku ngerasain apa yg aku alamin. So far, aku selalu nerapin untuk say thanks dan menghargai dia apapun itu hasilnya, karena ngerasain banget dibanding-bandingkan tuh gak enak. Maap mba jadi curcol wkwkwkwk.

    • Irena Faisal

      hahahahhaak toosss kita mbak,
      Aku dan adikku juga ngga betah Kalau main ke rumah ortu ku. Selalu ribut ujung-ujungnya. Kalau lebaran, paling lama 2 jam ada disana.

  • Irra Octaviany

    I can relate banget mbak. Perlakuan orang tuaku nih kayak gini. Beneran deh sekarang jadi pikiran banget buat aku supaya gak kayak gini ke anakku. Thanks for sharing. Suka sama tulisannya.

    • Irena Faisal

      aaaah ternyata banyak yang senasib sama aku, Mbak 🙁
      jangan sampai terulang mbak, kasihan mental anak-anak nantinya

  • Eni Martini

    Duh, kirain narsis suka foto jadi langsung mikir karena saya sebagai ibu masih narsis dalam foto,haha. Tengkyu sharingnya mb, bikin mikir apakah tanpa sadar sebagai ortu saya melakukan salah satu point di atas

  • Inka Amalia

    Harus benar-benar bijak ya dalam mendidik anak. Salah dikit aja bisa fatal, aku sedih kalau sampe separah itu dampaknya. Semoga aku bisa banyak mengambil pelajarannnya

    • Irena Faisal

      Betul mbak, harus bijak jadi orang tua itu bukan cuma teori. Mesti dipraktekan dan kita sebagai orang tua mesti terus belajar untuk jadi lebih baik 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *