Parenting

Ciri Remaja Puber Dan Cara Menghadapinya

Yang gue baca di Wikipedia, Remaja adalah satu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa yang dimasuki pada usia kira-kira 10 sampai dengan 12 tahun dan berakhir pada usia 18 sampai dengan 22 tahun.

Sedangkan Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Biasanya dimulai pada umur 8 sampai dengan 10 tahun dan berakhir pada umur sekitar 15 sampai dengan 16 tahun. Pada anak perempuan, pubertas ditandai dengan menstruasi pertama dan pada anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah.

Di blogpost ini gue mau cerita pengalaman gue sebagai ibu dari dua orang remaja perempuan yang lagi puber. Anak pertama sekarang umur 17 tahun dan anak kedua umur 15 tahun. Menurut gue, remaja puber terutama yang berjenis kelamin perempuan adalah mata pelajaran buat seorang ibu yang kudu mesti harus wajib lulus dengan gemilang alias cumlaude. Kenapa begitu??? karena seorang anak perempuan yang beranjak dewasa BIASANYA cerminan perilaku dari ibu, bisa jadi dengan mencontoh atau malah kontra dengan perilaku sehari-hari ibu nya. Selain itu ibu adalah narasumber utama si anak perempuan terutama tentang bentuk perubahan fisik dan lingkungan sosial nya. <<=== duileeeehh macam betoool aja bahasa gue hahaha..

💁‍♀️ Perubahan fisik

Sebelum menstruasi pertama. anak-anak perempuan gue mengalami pembesaran payudara dan sudah mulai jerawatan. Tapi anak sulung gue lebih lambat menstruasi pertama nya daripada adiknya. Dan si kakak ini sempat galau, dia merasa nggak normal karena menstruasi yang terlambat. Gue jelaskan bahwa menstruasi itu bukanlah suatu perlombaan tapi tergantung hormonal.
Awalnya mereka bingung dengan perubahan fisik itu apalagi pada saat menstruasi pertama. Cara menghadapinya:
– Menjelaskan sebab dan akibat dari perubahan itu.
– Mulai membelikan miniset kemudian bra sesuai dengan pembesaran payudara nya.
– Memberi tahu tentang Pre Menstruasi Syndrom (PMS) misalkan keputihan yang yang terjadi tiba-tiba, perut yang sering mulas, emosi yang meledak-ledak atau perasaan yang melankolis.
– Mulai mengajari cara pakai pembalut dan ajarkan kebersihan pada saat masa menstruasi.
– Berhubung gue dulunya sering di cekokin jamu sama emak gue dan jadi kebiasaan, jadi gue tularkan mereka untuk minut jamu kunyit asam. Pada saat mereka untuk apa, gue jawab: supaya segar dan nggak bau badan 😀

💁‍♀️ Perubahan perilaku sosial dan emosi yang significant

Tanpa di sadari oleh anak-anak gue, mereka berperilaku yang tidak atau jarang sekali di lakukan oleh mereka sebelum mengalami pubertas.
😶 Tidak Percaya Diri
Yang sangat mencolok adalah mereka insecure dengan bentuk fisik mereka. Khawatir dibilang jelek atau dekil.
Cara menghadapinya: 
– Ceritakan pada mereka bahwa dulu gue pun dekil of the kumel. Bisa terlihat bersih dan kinclong karena rajin perawatan.
– Anak sulung gue bakat gemuk. Jadi pada saat dia mulai ngga percaya diri dengan bentuk tubuh nya, gue dukung dia untuk diet sehat bahkan gue ikutan diet supaya bikin dia semangat. Begitu pun dengan dukungan untuk berolahraga. Misal daftar kan anak-anak gue ikutan running event.
– Dukung mereka untuk melakukan perawatan ala remaja, misalkan luluran dan maskeran dengan bahan alami atau dengan produk drugstore yang aman dengan kondisi kulit mereka.
– Beli peralatan make up ala remaja, misalkan body mist yang sesuai dengan selera mereka, loose powder sesuai warna kulit mereka, dan liptint dengan warna remaja.

😶 Mood Swing
Biasanya terjadi karena bosan dengan kegiatan sehari-hari disekolah dan dirumah. Atau bahkan bisa terjadi dengan pertemanan sesama remaja puber lain nya.
Cara menghadapinya:
Memantau. Gue biasanya memberikan mereka ruang untuk membenahi mood nya, misalkan dengan membiarkan mereka menyendiri sementara waktu di kamar nya. Tapi kalau gue lihat sudah berlarut-larut dengan tegas gue akan bertanya apa yang terjadi pada mereka.
– Jika sudah mendapat jawaban penyebab mood swing mereka, gue akan bertanya apakah mereka butuh saran dari gue apa tidak. Jika mereka butuh, gue akan kasih saran ringan, jika tidak gue akan stop ngobrol sama mereka dan biarkan mereka “me time” sejenak.

😶 Antagonis
Pada masa puber ini, anak-anak gue sering membantah atau menentang semua peraturan yang sudah ada sebelumnya. Biasanya hal ini terjadi karena mereka ngga mau lagi di anggap anak kecil. Misalkan ngga mau lagi diantar jemput atau ngga mau lagi diatur pilihan pakaian.
Cara menghadapinya:
Memberikan solusi berupa pilihan untuk mereka. Misalkan mereka ngga mau diantar jemput, berikan mereka ketegasan jam pulang ke rumah dan handphone harus bisa dihubungi setiap saat. Tentu saja kita harus tahu mereka akan pergi kemana dan dengan siapa. Atau pada saat mereka memilih pakaian yang meraka sukai tapi terlihat tidak pantas, sarankan pakaian lain yang juga mereka suka tapi terlihat lebih pantas.

😶 Emosi yang meningkat
Gampang marah, mudah sedih, dan lebih sering ngambek adalah hal yang biasa terjadi di masa puber.
Cara menghadapinya:
– Tegas. Karena biasanya mereka jadi mudah marah atau lebih sering ngambek terkait hal-hal yang tidak begitu penting. Misalkan ingin punya sesuatu yang belum dibutuhkan. Begitupun dengan mudah sedih, mereka sering memikirkan hal-hal yang tidak patut untuk ditangisi. Misalkan barang koleksi mereka ada yang rusak atau hilang, sedangkan barang tersebut mudah di dapatkan.

😶 Rasa penasaran yang tinggi
Terutama tentang sisi gelap dari pergaulan. Misalkan rokok, diskotik, minuman keras, bahkan drugs.
Cara Menghadapinya:
– Jelaskan tentang sebab akibat dari hal-hal yang bikin mereka penasaran berikut dengan contoh nya. Kalau versi gue, kebetulan dulunya gue termasuk golongan kaum begajulan (rokok, diskotik, dan minuman keras). Jadi gue ceritakan semua pengalaman kenakalan gue ke mereka termasuk dengan akibatnya. Dan kebetulan salah satu anggota keluarga besar gue punya catatan kelam tentang drugs, jadi gue jelaskan tentang efeknya berikut ceritakan tentang anggota keluarga gue itu.

 

💁‍♀️Perubahan perilaku seksual

Nah yang ini bikin gue senewen, karena remaja jaman sekarang ini terhitung “berani”. Sejujurnya, menghadapi perilaku seksual remaja puber ini tricky sekali. Gue ngga bisa over protective karena gue khawatir mereka akan melakukan sesuatu yang tidak pantas di belakang gue. Gue pun ngga bisa bebaskan begitu aja nanti malah mereka kebablasan.
Cara Menghadapinya:
– Bersikap seperti teman. Tetap santai saat membahas tentang pornografi dan seksualitas. Jelaskan dengan bahasa yang tidak menghakimi dan tanpa ada rasa curiga.
– Minta dikenalkan kepada pacar mereka dengan mengajak pacar nya main ke rumah.
– Ngobrol dengan pacarnya dengan pasang tampang santai.
– Cari tahu tentang orang tua pacarnya lewat obrolan tetapi dengan nada yang tidak menyelidiki, pada akhirnya minta dikenalkan kepada orang tua pacarnya tersebut.
– Ijinkan mereka dating dengan syarat kita tahu tujuan nya kemana dan kasih batasan waktu. Misalkan kasih mereka waktu untuk sekedar nonton bioskop dan makan di mall.
– Sematkan aplikasi GPS pada handphone mereka dan minta mereka agar tetap bisa dihubungi dengan alasan apapun (bekalkan mereka dengan full charged power bank)
– Kasih tahu mereka bahwa kepercayaan itu mahal. Versi gue kalau kepercayaan gue sirna sudah pasti no dating, cabut fasilitas handphone, antar jemput kemana-mana atau ngga boleh keluar rumah. Pokoknya lakukan hal-hal yang menjengkelkan mereka.
– Doktrin mereka bahwa jatuh cinta tetap harus menggunakan logika. Kalau versi gue, gue ngga akan pernah bosan berceloteh tentang harga diri perempuan jika sudah ternoda. Gue juga selalu bilang kalau hanya ada satu laki-laki yang mencintai mereka dengan tulus dan tanpa syarat yaitu bapak nya, kecuali laki-laki tersebut berani melamar dan menikahi.

Kesimpulan nya: Menghadapi remaja yang sedang puber diperlukan sikap tenang dan bijaksana. Pahami karakter anak dan lingkungan sosial nya. Berikan kepercayaan dan ajarkan bertanggung jawab akan diri mereka. Dan yang paling penting kuatkan fondasi agama dalam kegiatan sehari-hari.

Seperti ituuuuuhhh pengalaman gue sebagai emak-emak yang punya anak remaja dalam masa puber, semoga membantu yes ☺️

happy wife, happy mommy, happy blogger :)

38 Comments

  • Bunda Erysha (yenisovia.com)

    Aku ya bun kalau di suruh milih menghadapi anak kecil atau anak remaja, pasti langsung milih ngehadepin anak kecil hihihi. Ngehadepin anak remaja itu bener-bener harus hati-hati. Karena psikologis mereka itu ya lagi nggal stabil. Jadi kitanya harus pinter-pinter ha menempatkan diri ke dunia mereka. Ini anak aku ya dari usianya 2 tahun udah punya pilihan pke baju yang dia suka. Aku biarin aja selama ga keluar jalan2 msalnya k mall dll hahaha

    • Irena Faisal

      iya bun, lebih mudah hadapin anak kecil daripada abege 😀 tricky banget, apalagi abege jaman now pada pinter2 hahaha

  • Okti Li

    Setuju dan merasakan sekali atas beberapa tindakan serta cara menghadapi pubertas bagi anak remaja. Anak kandung saya sih batu usia 6 tahun, tapi kami punya amanah beberapa anak mengaji di rumah yang dititipkan orang tuanya.

    Sebagai guru ngaji, bukan hanya dituntut memahami mereka secara psikologis, tetapi juga secara agama. Dalam arti bukan hanya sekadar menjadi teman mereka supaya saat ada masalah mereka berani terbuka dan berdiskusi. Ada yang lebih jauh lagi yaitu terkait hukum Islam terkait anak yang sudah baligh.

    Bagaimana anak lelaki kalau mimpi basah, apa yang harus dilakukan, apa yang haram dilakukan, bagaimana niat dan praktik nya. Begitu juga untuk anak perempuan yang sudah mendapat haid.

    Tidak mudah, tapi kami terus berusaha untuk menjadi teman dan sahabat para santri dan santriwati. Daripada mereka malu bertanya sesat di jalan, lebih baik bertanya kepada kami, guru mengaji sekaligus teman dan sahabatnya. Karena ortu mereka jelas sudah angkat tangan dan menyerahkan semua itu kepada kami.

    • Irena Faisal

      Alhamdulillah ya Mbak, setidaknya santri dan santriwati disana ada “orang tua” yang mereka jadikan teman dan sahabat sekaligus pautan 🙂

  • Suciarti Wahyuningtyas

    Wah aku juga sekalian belajar nih, untuk menghadapi saat anak nanti mengalami pubertas. Apalagi aku memiliki anak laki-laki dan mengingat pergaulan sekarang itu suka bikin jantung berasa bekerja lebih cepat ya mbak.

    Aku dari sekarang pun selalu mengajarkan anakku terbuka dalam segala hal. Jadi bundanya gak was-was menghadapinya.

    • Irena Faisal

      wuiih pergaulan remaja sekarang itu bikin jantungku serasa hilang mbak hahaha, mesti jadi sahabat anak supaya Anak bisa “open” sama kita ibunya

  • Aminnatul Widyana

    Wah bener banget, kalau dipikir-pikir aku dulu waktu beranjak dewasa juga kayak gini sikapnya. Sekarang setelah melewati masa-masa itu jadi semakin memahami bagaimana untuk menghadapi mereka para remaja.

    • Irena Faisal

      anak laki dan anak perempuan sama bikin deg2an ya Mbak hehehe.. anakku yang laki masih balita aja udah waswas aku

    • Irena Faisal

      waktu berlalu dengan cepat mbak hahaha, Pada saat anak sulung ku mulai dandan, ku langsung mikir ” perasaan dia baru pakai seragam SD, sekarang udah multi dandan” hahaha

  • Dewi adikara

    Terimakasih mbak sharingnya, saya selama ini selalu mencoba mengingat cara pengasuhan orangtua terdahulu. Dan ada cattn ini jadi penting banget, saya bookmarkin. Anak saya perempuan semua, tp mereka masih kecil semua. Semoga saya bisa menjadi ibu yang bijak kelak, amin:)

    • Irena Faisal

      Amiiin YRA, semakin berkembangnya zaman makin tricky menghadapi remaja, semoga kita sebagai ibu makin bijak dan selalu jadi panutan Anak 🙂

  • April Hamsa

    Noted banget nih mbk thanks.
    Org bilang punya anak kecil mumet sabar aja ntr gedean bisa ditinggal2 lbh bebas, kenyataannya saat anak puber, remaja tanggunh, ya kita tetep dampingin malah lbh ketat kyknya yaaa 😀

    • Irena Faisal

      dulu kupikir begitu, Mbak… Setelah menghadapi nya, hadeeeh malah ngga bisa santai (walaupun ku sebagai emaknya sok terlihat santai hahaha)

  • Ajeng Pujianti Lestari

    Sesungguhnya, anak gadisku saat ini baru berusia 3 tahun. Tapi baca ini udah bikin aku kebayang-bayang dengan apa yang aku hadapo saat tiba masa pubertasnya nanti.

    Wihihiho, semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dan bersahabat untuk anak-anak kita yaa

  • Cilya

    Sekarang ini aku lagi mengalami nya mba. 2 anak cowo ku lagi usia masa puber. Sudah masuk SMP dan sebagai Ibu aku wajib banget lebih aware terhadap aktifitasnya, sering ajak diskusi, sering tanya dan agak kepoin sosmed mereka ahaha..makasih sharing nya ya mba

    • Irena Faisal

      semangaaat Mbak, inshallah ALlah anak-anak bisa lewatin masa remaja nya dengan baik dan benar. Nanti pada saat mereka menikah, hal ini bisa jadi obrolan ringan Pada saat kumpul keluarga 🙂

  • Visya

    Ternyata pada setiap fase mang ada aja tantangan dalam mendidik anak ya mba.. Ak baru merasakan sedikitnya aja nih, blm nnti ke depannya, butuh bekal jg

  • Windah

    Noted. Pas banget anak anak ku laki laki semua dan udah mulai harus di awasin. Kalo cewek kan puber biasanya mens, jadi keliatan. Kalo cowok PR banget mengetahui mereka udah puber atau belum nya

    • Irena Faisal

      kabarnya kalau anak cowok terlihat dari pertumbuh bulu2 dan suaranya lebin berat mbak 🙂 tapi mungkin banyak ciri-ciri lain nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *