My Thoughts

Hati-Hati, Kekisruhan Dalam Keluarga Dapat Menyebabkan Bunuh Diri

Waktu masih SMA, ibuku pernah berkata seperti ini…”Kak, nanti kalau sudah menikah dan mempunyai keluarga sendiri harus kuat beribadah, banyak bersabar dan kuat mental. Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri, pokoknya harus kuat mental supaya tetap waras dan nggak mikir aneh-aneh”

Saat itu aku masih bingung kenapa ibuku memberikan nasihat seperti itu. Tapi setelah ada kejadian menyedihkan pada keluarga jauhku dan beberapa keluarga kenalanku, aku jadi mengerti maksud dari nasihat ibuku itu.

Aku ceritakan kejadian menyedihkan pada keluarga jauhku saja ya…
Ada sebuah keluarga yang terlihat sempurna menurutku. Keluarga itu adalah keluarga berkecukupan, sang ayah memiliki posisi pekerjaan sebagai Direktur perusahaan kontraktor terkenal dan sang ibu memiliki usaha katering yang terbilang sukses. Mereka memiliki dua anak laki-laki yang tampan yang dimanjakan oleh kedua orang tuanya.

Hingga pada suatu saat, anak pertama dari keluarga itu meninggal akibat kecelakaan motor balap di daerah kemayoran. Kondisi jenazah anak tersebut sungguh mengenaskan, pada saat menyaksikan autopsi jenazah, ayahnya histeris hingga jatuh pingsan.

Sejak saat itu, sang ayah jadi suka melamun dan seringkali berhalusinasi bahwa anak pertama kesayanganya itu masih hidup. Melihat hal tersebut, anak keduanya makin terluka karena merasa keberadaan sudah tidak berarti lagi di mata sang ayah setelah kakaknya meninggal.

Anak kedua dari keluarga itu menjadi liar dalam pergaulan, minuman keras dan diskotik menjadi akrab dengannya. Makin terjerumus dengan peredaran narkoba yang juga berakibat dengan hutang piutang. Sang ayah yang masih tetap bersedih dengan kepergian anak pertamanya dan melihat perilaku anak keduanya kemudian jatuh sakit bahkan dalam kondisi koma dan akhirnya meninggal dunia. Sang anak kedua dipenjara karena narkoba dan terkait hutang dikabarkan mengalami kekerasan fisik dan mental. Hanya sang ibu yang masih waras dengan sisa harta peninggalan suami dan penghasilan usaha katering yang menurun karena permasalahan keluarga berusaha “menebus” anak keduanya agar keluar dari penjara.

Akhirnya anak kedua tersebut bisa bebas dari penjara dan tinggal bersama ibunya. Tapi tidak lama anak tersebut bebas, dia mengalami gangguan kesehatan jiwa yang kabarnya akibat kekerasan yang dia alami semasa di penjara. Ibunya mulai sakit-sakitan, sering dirawat di rumah sakit. Anak keduanya makin menjadi gangguan jiwanya akhirnya diasingkan ke kampung ibunya.

Setelah 2 atau 3 tahun diasingkan, sang ibu meninggal dunia akibat penyakitnya. Anak kedua yang mengalami gangguan jiwa di rawat oleh adik dari ibunya alias pamannya, dan dari kabar yang kudengar beberapa tahun lalu anak kedua ini meninggal karena bunuh diri entah apa alasannya.

Sungguh sangat menyedihkan ya kisah itu…. tapi itu kisah nyata dari keluarga jauhku.

Pada tanggal 9 Oktober 2019 aku hadir pada acara Temu Blogger di Kementerian Kesehatan, sehari sebelum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya. Acara tersebut bertema Mental Health Promotion and Suicide Prevention.

Acara yang menampilkan tiga narasumber yaitu Dr.dr.Fidiansjah M.A, Sp,KJ, MPH (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan RI), Dr.Indria Laksmi Gamayanti, M.Si (Ikatan Psikolog Klinis Indonesia) dan Novy Yuliyanti, M.PSI (MotherHope Indonesia) benar-benar membuka mataku karena menyuguhkan data-data yang mengejutkan tentang gangguan jiwa dan fenomena aksi bunuh diri jaman sekarang.

dr.Fidiansjah menyampaikan bahwa definisi kesehatan jiwa menurut UU No. 18 tahun 2014 adalah Kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

dr.Fidiansjah juga memberikan data berdasarkan Rikerdas (2013) bahwa prevalensi orang dengan gangguan jiwa berat 1,7% (402.900 jiwa) dan prevalensi orang dengan gangguan mental emosional 6,0% (14.220.000 jiwa)

Kemudian ada data menyedihkan lagi yaitu proporsi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang pernah dipasung 14,3% (angka nasional) dan 10.7% (di perkotaan) dan 18,2% (di pedesaan)

Aku juga mendengar cerita sedih dari narasumber berikutnya yaitu mbak Novy Yuliyanti M.PSI yang bercerita bahwa dirinya pernah mengalami Post Partum Depression (PPD) yang menyebabkan dirinya membenci anaknya yang masih bayi dan ingin bunuh diri.

Aku makin terkejut saat narasumber terakhir yaitu Ibu Dr. Indria Laksmi Gamayanti M.SI mengungkapkan fakta bahwa hampir 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun dan 1 kematian akibat bunuh diri terjadi setiap 40 detik. Prevalensi bunuh diri di Indonesia adalah 3.7 per 100.000 penduduk setiap tahun. Bunuh diri adala penyebab kematian nomer 2 untuk masyarakat berusia 15-29 tahun.

Yang beresiko melakukan bunuh diri adalah yang mengalami masalah psikologis berat atau gangguan jiwa seperti mengalami bullying, mengalami tekanan hidup yang berat, minim dukungan sosial, ada sejarah anggota keluarga yang melakukan bunuh diri, bahkan memiliki hubungan buruk atau terputus dengan ibu (maternal deprivation)

Faktor yang menguatkan seseorang untuk melakukan bunuh diri adalah sebagai berikut:
– Kesepian
– Merasa tidak dibutuhkan atau tidak berguna.
– Lelah dengan kehidupan.
– Putus asa.
– Merasa tidak ada yang perduli.
– Merasa dijauh kerabat dan teman.
– Perasaan tertekan.

Sedangkan tanda-tanda bunuh diri seperti ini:
– Bicara tentang bunuh diri.
– Bicara tentang alat-alat bunuh diri.
– Sulit makan atau tidur.
– Menunjukan perubahan perilaku yang drastis.
– Mundur dari kegiatan sosial.
– Pernah mencoba bunuh diri.
– Memberikan barang berharga dan mempersiapkan kematian dengan menyiapkan surat wasiat.
– Kehilangan keperdulian akan penampilan pribadi.
– Baru megalami kerugian serius.

Walaupun adanya tanda-tanda diatas belum tentu akan terjadi bunuh diri namun kita HARUS menanggapi dengan serius.

Apabila ada keluarga atau kerabat yang mengalami gangguan kesehatan jiwa mulai dari gangguan emosional apalagi menjurus ke arah perbuatan bunuh diri, kita bisa membantu dengan cara mengajak bicara dan tunjukan empati. Akan lebih baik lagi bila kita bisa membantu untuk menyelesaikan masalah atau ajak mencari bantuan profesional.

Cegah lebih lanjut dengan cara berinteraksi secara lebih positif dan ajak terlibat di kegiatan-kegiatan positif dan menyenangkan. Jangan lupa untuk perhatika  interaksi di media sosial dan kenali teman-temannya yang lain. Akan jauh lebih baik apabila kita bisa sembunyikan alat-alat yang bunuh diri di sekitarnya.

Oh ya, pada acara ini dr.Fidiansjah juga mengenalkan aplikasi SEHAT JIWA yang bisa diunduh di Google Playstore.


Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat berkonsultasi kesehatan jiwa secara online. Apabila masyarakat membutuhkan pelayanan langsung dari Kementerian Kesehatan  juga dapat menghubungi nomer hotline 1500-567 atau SMS 081281562620. Atau bisa kirim email ke kontak@kemkes.go.id

 

 

 

 

 

happy wife, happy mommy, happy blogger :)

36 Comments

  • Catcilku

    Ngeri banget itu datanya mbak, kira hanya di luar negeri saja yang tingkat bunuh dirinya tinggi. Semoga kita dan keluarga dilindungi dan dijauhkan dari berputus asa. Selalu mendekatkan diri kepada Allah swt.

  • Alfi fanni

    Serem banget ya ceritanya mba. Saya sampe merinding bacanya. 1 keluarga harus meninggal seperti itu. Beratnya masalah sampai membuat kewarasan hilang dan membuat hidup jadi menyedihkan. Kasihan sekali, semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kebahagian serta jiwa yg kuat. Amin

  • Fanny Fristhika Nila

    masalah kejiwaan inj sbnrnya oentiiiing banget utk diperhatikan. kantorku HSBC malah kemarin mengadakan sesi konsultasi utk kejiwaan buat semua staff yg mau ikut mba. Awalnya aku pikir, utk apaan sih. emgnya pada kena gangguan jiwa.. tapi ternyata yg ikut rame! itu berarti sbnrnya tiap dr kita banyak yg merasa bahwa jiwanya mulai terganggu ntah krn stress kerjaan ato hal lain…

    dipikir2, kdg aku toh ngalamin yg namanya tekanan kerja, sampe rasanya pgn resign.. berefek ke marah2 ama keluarga dan anak. Tp aku cm menganggab itu marah biasa. untungnya suami slalu ngerti dan coba utk ngajak ngobrol. tp buat org2 yg ga punya teman utk mencurahkan masalahnya gitu, pasti susah sih, dan takutnya malah makin parah dan sakit jiwanya 🙁

  • Asih

    Daya saing dan kondisi psikologis seseorang sangat mempengaruhi faktor kejiwaannya. Tingkat kepedulian saat ini juga semakin menipis karena setiap orang berusaha saling mengejar targetnya masing-masing. Maka hal yang paling menenangkan adalah mendekatkan diri kepada Sang Ilahi.

  • Dayu Anggoro

    ODGJ ini masalah yang bener-bener harus disikapi dengan serius kayaknya. Dari cerita di atas, saya yakin banyak org yg di luar keliatan biasa aja sikap dan perilakunya, tapi kalo lagi sendirian bisa aja memendam sesuatu masalah yg gak bisa diceritain sampe stress.

  • Ria Bilqis

    Setuju banget dengan pesan mama, memang setelah menikah kita harus kuat. Karena masalah kecilpun akan terasa berat jika kita tidak mau berbagi dengan orang terdekat. Jauh jauh deh dari niat untuk bundir. Selalu eling inget anak yang harus kudamoingi hingga sukses.

  • Brillianty

    Gara-gara kasus sulli makanya penanganan kejiwaan yang sedang ‘sakit’ ini menjadi perhatian serius. tapi memang sih di Indonesia ini kadang stress dan depresi masih dianggap sepele, padahal itu berbahaya. Peran keluarga memang benar-benar penting sebagai support system.

  • Diary Novri

    Naudzubillah….
    Tragis sekali kisah yg diceritakan mbak.. sedih saya bacanya. Gangguan jiwa atau kesehatan mental itu ngga keliatan jika kita tdl aware dengan orang sekeliling kita ya..

    Tp bs jd sekeliling sdh aware tapi yang bersangkutan enggan berobat karena denial, merasa jiwa nya baik-baik saja. Di lingkungan saya ada sesebapak yang di cap ‘agak gila’ . usut punya usut saya dpt info dari teman yg bertetangga ckp dekat, bapak tersebutg mengalami gangguan mental sejak ditinggak istrinya karena ada masalah finansial. Kasian liatnya, tapi tdk bisa berbuat apa-apa.

    Minimal kita aware ke lingkaran keluarga kita masing-masing, semoga dijauhkan dari gangguan kejiwaan semacam itu.

  • Endah Kurnia Wirawati

    Sebagai orang yang juga pernah mengalami depresi hingga nyaris bunuh diri, saya tahu passti bagaimana rasanya berada di kondisi tersebut. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik saat ini, meski dulu sempat tertatih-tatih membangun kembali mental yang rusak.

    ‘What doesn’t kill you, only makes you stronger’ ini adalah kalimat yang kini menjadi motto hidup saya.

    Mudah-mudahan tidak ada lagi orang depresi yang terus menerus dikucilkan dan semoga kita bisa membantu orang-orang yang kita kenal dari depresi dan bisa mencegah tindakan bunuh diri di sekitar kita.

  • Santi suhermina

    Emang sih dalam berkeluarga selalu akan ada tantangan. Makanya setiap anggota keluarga wajib saling mendukung dan tetap stay positive, jadi klo ada salah satu yang lagi down, maka yang lain harus bisa menguatkan. Jangan sampai yang satu down yang lain ikutan down. Semoga kita terhindar dari hal2 demikian ya..

  • Lelly

    Ya Allah… ujiannya mereka luar biasa sekali ya. Anak pertama meninggal, bapaknya jadi begitu, anak kedua kena gangguan jiwa, ibunya sakit-sakitan pula. Ini beneran macem di balik gitu ya kehidupan mereka.

    Kalau aku bilang sih, hal pertama yang harus dilakukan adalah ikhlas dulu. Rasanya, minta bantuan ahli juga tidak akan membantu kalau diri sendiri nggak siap buat nerima segala ketetapan yang terjadi.

  • Alia Arifin

    Bener² tragis dari kematian anak sulung jadi akhir keberadaan kel. yang tampak bahagia.

    Mungkin untuk mencegah hal seperti itu,, perlu komunikasi, saling mensuport, dan tidak mengabaikan satu dan lainnya.

  • Siska Dwyta

    Ya ampun kisahnya tragis sekali Mbak. Endingnya semua keluarga jauh Mbak itu meninggal ya. Tapi paling sedihnya si anak kedua ini. Kasihan sekali sampai mengalami masalah mental gitu dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

  • Muyassaroh

    Ya Rabb.. Berat sekali cobaannya ya mbak. Baca pun sambil merinding. Kemarin belum lama juga ada kerabat yang sempat ingin bunuh diri. Sebabnya merasa tidak dihargai oleh keluarganya meski kalau dilihat dari luar kehidupan mereka sempurna sekali. Sebagai ortu saya merasa perlu berhati-hati dalam bersikap kepada anak-anak. Jangan sampai di antara mereka ada yg merasa kurang diperhatikan karna efeknya benar-benar buruk bagi mereka..

  • Erin

    Inalilahi, bunuh diri itu memang banyak penyebabnya mba. Sodaraku karena tidak dapat menahan derita sakit di perutnya malah bunuh diri. Temenku sempat bunuh dii juga, tapi keburu ketahuan jadi Alhamdulillah selamat. Bunuh diri memang dapat terjadi ke pada siapa saja.
    Semoga kita tetap waras.

  • Evalina

    Waduh, seram juga ya tentang bunuh diri, pada intinya balik lagi ke keimanan, kalau punya dasar agama yang kuat, jika terjadi sesuatu dengan kehidupan, dikembalikan pada Allah

  • Gita Siwi

    Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Sedih dan tragis ya kalau udah bicara akhir hidup seseorang dengan bunuh diri. Bicara/sharing itu memang perlu ya. Disamping bekal pendidikan agama yang baik dari kecil.

  • Dian Restu Agustina

    kesehatan jiwa masih diabaikan oleh banyak orang padahal nanti risikonya ada, misal jika banyak tekanan akan bunih diri seperti kasus di atas. Maka aplikasi seperti ini bisa jadi salah satu solusi. Kadang ada yang lebih senang curhat pada orang lain dan bukan orang terdekat. Pasti ini membantu sekali

  • Nisya Rifiani

    Kasus-kasus bunuh diri yang dilatarbelakangi oleh masalah keluarga akhir-akhir semakin mencuat di media massa. Memang masalah ini bukan masalah sepele ya, selain aware sama diri sendiri, sebaiknya kita juga aware sama orang lain apalagi orang terdekat… semoga jiwa dan raga kita tetep sehat…

  • Nurul Dwi Larasati

    Kisah keluarga jauhmu tragis juga mba. Memang nggak bisa disepelekan sakit kejiwaan itu ya. Perlu penanganan lebih dekat dengan orang yang tepat. Minimal kita bisa tahu cegah tidak mendekati sakit jiwa ya.

  • Putu Sukartini

    Duh patah hati aku baca kisah pembuka artikel ini. Betapa kesehatan mental itu penting banget dijaga. Kalau tidak, bisa berakhir tragis seperti itu
    Semoga kita semua bisa berinteraksi dengan cinta dan saling menjaga ya

  • Wian

    Sedih deh aku skrg bnyk banget kasus bunuh diri. Kadang aku jd mikir loh mba, apakah aku ini ada di posisi irang yang depresi atau apakah aku ini ada di posisi orang yang menyebabkan orang lain depresi?
    Karena kadang kita gak sadar ada perubahan sikap dengan orang disekitar kita yang bisa jadi itu adalah tanda bahwa dia sedang stress/ depresi. Dan kadang kita juga merasa ketika stress enggak ada orang yang tepat yang bisa mendengar semua keluh kesah kita tanpa menghakimi.

  • Elly Nurul

    Baca tulisan ini jadi mengingatkan diri sendiri untuk senantiasa menjaga emosi ya mbak.. dan penting juga menjaga keharmonisan dalam rumah tangga sehingga jauh dari hisruh rumah tangga yang bisa menyebabkan hal hal tidak diinginkan terjadi..

  • Reh Atemalem

    Post partum depression itu nyata. Tolong bantu ibu-ibu yang baru melahirkan dengan menahan mulut jika hendak komentar ya.

    Mereka ga butuh disalah-salahin lagi. Makin dalam nanti depresinya.

  • Pertiwi Yuliana

    Beberapa hari belakangan aku lagi nemenin teman dekatku untuk terapi ke psikolog. Karena beberapa hal, dia beberapa kali mencoba untuk bunuh diri. Intinya, kalo ada orang yang lagi mengalami depresi di sekitar kita, jangan sampai dibiarkan, coba untuk terus dirangkul. Dan, kalau kita yang lagi mengalami depresi, segera cari bantuan.

  • Anisah Widyastuti

    Barusan abis lihat berita nya Nunung terus baca ini. Banyak.orang yang pura2 happy kaya Joker ya kak,aslinya padahal lagi sedih,lagi bete sebete2nya. Bener banget apapun yang terjadi memang harus dimuarakan ke allah,lebih dekat lagi sama Allah. Dan perbanyak membaca quran karena quran adalah obat dati segala macam penyakit.

  • Tuty Saca

    Turut berduka cita atas kisah keluarga jauh mbak. Mengiris dada sekali mbak. Kehilangan orang yang dicintai memang membuat kita down banget, saat suamiku meninggalpun aku butuh setahun untuk bisa bangkit.

  • Anesa Nisa

    Ngeri abis baca ceritanya Kak Iren.
    Semoga kita selalu diberi kesehatan jiwa raganya, ya. Aamiin.

    Ngomong soal apilkasi Sehat Jiwa, menurutku ini pencegahan bagus yang dilakukan pemrintah. Jadi orang nggak bingung lagi harus cerita ke siapa. Bisa jadi, aal mulanya dia curhat ke dokter karena malu dianggap gila kalau pergi ke psikiater atau psikolog. Nah, dari respon di aplikasi ini semoga bisa ada tindak lanjutnya ya bisa membawa manfaat luar biasa bagi si pengadu.

    Semoga makin banyak yang tahu tentang aplikasi Sehat Jiwa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *