My Thoughts

Pekerjaan Pertamaku, Penggoda Pria

Disclaimer: Apa yang kutulis di blogpost ini hanya berdasarkan pengalamanku. Mohon maaf apabila ada yang pernah atau masih menjalani pekerjaan seperti yang kutuliskan disini.

Bapakku adalah seorang pegawai negeri sipil yang jabatannya terbilang strategis dan ibuku adalah pengusaha katering dan konveksi.  Masa kecilku terbilang lumayan berkecukupan. Bahkan aku bisa masuk ke perguruan tinggi swasta yang terkenal mahasiswa dan mahasiswinya sebagian besar berasal dari kaum ningrat alias tim hedon.

Tetapi pada semester empat seingatku, badai ekonomi menerpa keluargaku karena satu dan lain hal. Untuk membayar uang kuliah per semester, orang tuaku merasa mulai keberatan. Mereka mengandalkan uang tabungan yang ada untuk membayar sisa semester kuliahku. Orang tuaku bilang bahwa mereka sudah tidak mampu untuk memberiku uang transportasi dan uang jajan.

Dari situ aku berpikir untuk mencari uang sendiri, setidaknya kebutuhan jajan dan transportasiku bisa aku cukupi tanpa minta ke orang tua. Mulailah aku cari tahu tentang lowongan kerja yang membolehkan karyawannya masih status mahasiswi.

Sampai suatu saat, ada temanku tetangga dirumah memberikan info lowongan kerja sebagai SALES PROMOTION GIRL (SPG) salah satu produk minuman kesehatan pria yang kantornya berlokasi di Pulo Gadung. Saat itu lokasi kampusku berdekatan dengan Pulo Gadung. Aku coba melamar ke perusahaan itu, dan langsung diterima tanpa ada persyaratan yang berat. Aku senang bukan kepalang, karena kupikir aku bisa kerja setelah selesai jam kuliah. Dan yang lebih bikin senang karena aku bisa mencari uang jajan dan uang transportku sendiri tanpa memberatkan orangtuaku.

Perjuanganku dimulai… sehari sebelum resmi masuk kerja, aku di kasih briefing dari perusahaan dan aku agak kecewa dengan briefing tersebut. Aku kecewa karena aku diberi seragam yang terbilang sexy dan memperlihatkan bentuk tubuh.  Dan aku harus berani menjajakan produk perusahaan ke banyak pria yang menjadi target market. Tapi karena supervisorku saat itu memberi tahu bahwa tambahan uang bisa didapat apabila hasil penjualanku bagus, jadi aku simpan kekecewaan itu.

Sales Promotion Girl – Google

Hari pertamaku bekerja sebagai SPG dimulai dari pagi hari jam 8.00 pagi sampai jam 16.00 dan kebetulan hari itu sedang tidak ada jam perkuliahan. Aku dan teman-teman lain sesama SPG dibawa dalam satu mobil minivan ke komplek POLDA METRO JAYA. Pada saat itulah mentalku benar-benar diuji, dari anak perempuan yang biasanya minta uang ke orang tua menjadi anak perempuan yang harus bisa menghasilkan uang jajan sendiri. Di hari itu rasanya campur aduk, malu karena pakai baju seragam yang sexy, risih karena banyak mata lelaki yang jelalatan, sedih karena merasa dilecehkan pada saat menjajakan produk perusahaan agar dibeli oleh para lelaki itu.

Mungkin melihatku seperti linglung dengan ekspresi yang campur aduk, supervisorku memberiku dukungan semangat. Oh ya, sistem kerjaku ini berdasarkan shift, setiap tim berisi 4-5 orang SPG dan setiap tim dikawal satu supervisor laki-laki berikut supir.

Seminggu berlalu, perlahan mentalku mulai kuat dan motivasiku mencari uang jajan sendiri semakin kuat. Di minggu kedua, hasil penjualanku bagus sehingga aku mendapatkan bonus tambahan yang kalau diibaratkan bisa mencukupi uang jajan selama 2 minggu. Saat itu “gaji” aku dihitung per hari tetapi dibayarkan per minggu. Untuk anak perempuan yang baru pertama kali bekerja, uang sebesar Rp.100.000 per hari dan bonus tambahan Rp.50.000 setiap hasil penjualan mencapai target sudah merupakan prestasi. Rasa malu dan risih pun hilang setelah satu bulan menjadi SPG, yang ada hanya rasa bangga karena bisa menghasilkan uang sendiri.

Setelah sekitar 6 bulan aku menjadi SPG minuman kesehatan pria itu, aku ditawari pindah kerja yang lagi-lagi menjadi SPG tetapi menjadi SPG rokok ternama. Aku tergiur dengan upahnya yang menurutku banyak karena naik 3 kali lipat dari upahku sebelumnya sebesar Rp.300.000,- dengan bonus tambahan yang menarik sekali tentunya.

SPG Rokok – Google

Aku jalani pekerjaanku sebagai SPG selama hampir 2 tahun. Selain menjadi SPG Reguler atau SPG yang jam kerjanya seperti orang kantoran walaupun ada sistem shift, aku juga bekerja sebagai SPG Event yaitu SPG yang direkrut untuk acara tertentu misalkan pameran mobil dan sebagainya. Untuk SPG Event ini upahnya jauh lebih besar daripada upah SPG Reguler, tapi SPG Event hanya bekerja selama acara berlangsung. Aku pernah menjadi SPG Event merk mobil mewah dengan upah sebesar Rp.750.000, per hari selama sebulan.

Menurutku, menjadi SPG itu harus siap mental dari mulai menahan rasa malu karena seragam kerja yang terlihat sexy, mengatasi rasa risih karena godaan atau rayuan nakal banyak pria, bahkan cibiran dari sesama wanita saat kami para SPG ini melintas. Belum lagi memikirkan target penjualan dan keberhasilan merk di acara pada saat jadi SPG Event.

source: Google

Prinsipku adalah selama aku bekerja halal dan bisa mencukupi diri sendiri lebih bagus lagi aku bisa membantu ekonomi keluarga, aku tidak perduli dengan pendapat mereka yang bahkan hanya bisa mencibir tapi tidak membantu mengatasi masalahku.

Dan menjadi SPG ini adalah cikal bakalku menjadi seorang marketing yang mampu “menjajakan” produk didepan banyak direksi perusahaan 🙂

 

happy wife, happy mommy, happy blogger :)

14 Comments

  • Diary Novri

    Mba iren.. Aku berasa flashback baca tulisan mbak. Masa mudaku pun berprofesi sebagai SPG. (etdaah , masa muda.. Emangnya sekarang udah tua ya? Wkwk..)

    Tapi aku masih beruntung, karena produk2 yang kupegang bukan brand rokok atau minuman kesehatan pria. Biasanya aku terima job produk homecare, paling banter personal care lah.. Semacam sampo, sabun dll , dari brand Unilever. Jadi seragamnya ngga seksi2 banget. Casual malah. Jeans atau t shirt, atau malah blazer kek org kantoran..( Waktu itu belum berhijab , ya Allah ampuni hamba)

    Memang profesi SPG kerap dipandang sebelah mata ya mba.. Tapi balik lagi sama orangnya.. Kalau niat macem-macem bisa, mau lurus2 aja insyaAllah juga bisa..

    Tp lepas dari semua itu, pengalaman bekerja itu membuat kita kebih menghargai apa yg kita miliki ya mba..
    Plus ada kebanggaan tersendiri karena bisa punya uang tanpa minta ke ortu..

  • Erin

    Spg event memang lebih besar ya mba gajinya.
    Aku belum pernah si, tapi aku gak pernah mencibir para spg, mungkin karena aku tipe orang yang tidak memersalahkan penampilan. Apalagi SPG kan memang tuntutannya pakain yang ketat. Selama niat kita baik, masa bodo deh dengan nyinyiran orang.

    • Erny Kusuma

      Jadi seorang SPG itu banyak tantangannya ya mba, semoga jalannya lurus. Sebab tk bs disangkal bnyk pndpt umum, memndang SPG pekerjaan yang rentan dgn nilai negatif. Yang pnting tetap semangat n tak neko2, hehe

  • Siska Dwyta

    Sepertinya cerita pengalamannya ini masih menggantung Mbak. Jadi penasaran dengan pekerjaan Mbak selanjutnya,

    Btw saya kurang tahu pekerjaan sebagai SPG tapi baca pengalaman Mbak ini jadi ngeh. Intinya menjajakan produk dan untuk itu seorang SPG dituntut harus berpenampilan seksi agar bisa menarik pelanggan yang notabenenya adalah laki2.

    Oke yang penting pekerjaan halal tapi maaf ya Mbak kalau menurut kata hati Mbak sendiri pekerjaan sebagai SPG yang menurut Mbak sendiri sama dengan penggoda pria itu baik atau nggak? Apalagi dalam posisi sebagai seorang muslimah.

    Maaf saya tak bermaksud menyudutkan, setiap orang punya masa lalunya masing2, bahkan masa lalu yang buruk bisa jdi pelajaran terbaik di masa mendatang.

  • Lelly

    Wiiiih… Pernah jadi SPG. Entah kenapa, saya kok masih merasa gaji harian yang mbak sampaikan itu kurang untuk effort yang dikeluarkan.

    SPG itu menurut saya agak kasian, selain harus pakai baju sexy juga harus menawarkan produk kan. Itu rasanya kok tidak sebanding jika dapat segitu. Ya lelah fisiknya, mentalnya, mestinya itu juga perlu diertimbangkan.

  • Nisya Rifiani

    Berarti hampir tiga tahun jadi SPG, pasti udah banyak makan asam garam. Tapi plusnya pengalaman yang didapat jadi bekal merambah ke dunia marketing. Nah itu yang menurutku keren…

  • Rosanna Simanjuntak

    Aku langsung browsing lho mba, fenomena SPG berbusana seksi ini.

    Alhamdullillah, di today(dot)line(dot)me Maret 2018, beberapa brand dan ajang besar seperti Formula 1 sudah mulai mengucapkan selamat tinggal pada kehadiran wanita seksi sebagai pendukung acara.

    Begitulah seharusnya ya, karena yang dijual kan produk!

    Seharusnya memang kualitas produk yang kudu ditingkatkan, dan wanita justru harus dianjurkan berpakaian sopan.

    Beginilah seharusnya menghormati wanita!

    Mohon maaf ya mba, aku agak mengebu-gebu, hihihi
    Aku ingin wanita itu dihargai karena brainnya, terutama!

    Siapa sih wanita yang tidak ingin sempurna, punya paket 3B, Brain, Behaviour dan Beauty
    Kita semua pasti memimpikannya!

    Baidewei, subway,
    Aku mampir karena kepsyennya sungguh sangat menggoda

    Salam kenal dari bumi Borneo ya, mba
    Mari mampir ke ‘rumah’…

  • Meykke Santoso

    Ga kebayang 750 ribu per hari selama sebulan. Wah Waaaah langsung banyak tabungannya ya mbak dan dri sit jga bsa jdi cikal bakal dan. Ekal untuk skrang berkarier lebih sukses lagi

  • Ludyah Annisah

    Selalu suka dengan ceritanya Mba Irene. Wahh, sampe kebayang aku gimana perjuangan Mba Irene dulu. Strong pisan demi mencari rejeki tambahan yang halal. Keren mbaa, secara mental itu sudah teruji mbaa. Saluuutt….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *